Cuma Ingin

Ada yang awalnya tidak mencintai, lalu menikah dan kemudian mencintai.

Ada yang mencintai, kemudian setelah menikah tidak lagi.

Tapi sedikit, yang mencintai kemudian menikah dan bertambah cintanya.

Saya ingin mencintai, menikah dan bertambah cinta pada satu orang yang sama.

Saya gak mencari suami, dan saya pun gak mencari ayah buat anak-anak saya. Tapi saya mencari seorang menantu untuk kedua orang tua, yang terbaik untuk keduanya. Yang akan menjadi anaknya juga, jadi teman untuk anaknya, dan yang akan memberikan cucu yang akan selalu sayang, mendoakan kakek neneknya, menjadi laskar baru yang akan berjuang pada kebaikan.

Itu saja.
Kalau boleh Tuhan izinkan….

SATU

Denganmu, kata-kata seakan hilang. Penjelasan jadi pudar. Saya ingin berpikir bahwa kamu mengerti semuanya. Jadi saya diam. Kemudian saya pikir saya tidak sepenuhnya benar. Jadi saya sadar. Kamu manusia biasa seperti saya. Kita sama. Sama-sama bodoh. Sama-sama tidak terbiasa. Semoga Dia yang maha kasih, menunjukkan jalannya untuk kita.

Patah

Harusnya bulan-bulan kemarin sampai sekarang adalah bulan yang istimewa buat saya. Hari-hari yang menentukan hari-hari berikutnya sepanjang hidup.

Saya bahagia.
Malahan banget.

Tapi gak bisa dipungkiri, saya ngerasa patah. Patah untuk hal-hal tertentu. Gak ada semangat dan lebih banyak tidur.

Kamu tau, gimana rasanya tidak disukai, bahkan ketika tertawa sekalipun?

Saya tau, saya punya banyak kekurangan. Gak semua orang paham itu dan saya pun gak harus memenuhi  keinginan semua orang kan?

Saya punya jalan sendiri. Punya cara sendiri, yang beda dari orang lain. Mereka gak ngerti saya dan memang gak harus mengerti.

Dan, di sinilah sekali lagi saya ngerasa sendiri. Saya ngerasa patah.

Hei, K! Seharusnya kamu gak boleh ngerasa begitu! Yang dulu yang pernah kita jalani, itu jauh lebih sulit!

Harusnya lebih kuat!
Gak gampang ngerasa patah!
Kamu gak pernah sendiri, itu yang dulu sering kami bilang. Inget, kan?

Perasaan patah itu ada, karena harapan yang terlalu besar. Jadi, biarkan kita berusaha sebaik mungkin dan biarkan Robbi yang menunjukkan kekuasaannya…

Jadi, tetaplah tersenyum. Pasang headset untuk hal yang merusak hatimu. Buka mata untuk perbaiki kekurangan dengarkan setiap saran yang membangun.

Jangan begini lagi, jangan cengeng lagi!

Teman (Hidup)

“Sendal jepit aja punya teman…”

Begitu celetukan yang sering saya dengar.

Udah, cuma mau nulis itu aja. Ahahahhahaahaaa. Plak banget ini, kalo ada yang ngira saya akan nulis hal yang serius. ^-^

Kadang, hal yang serius, gak harus ditulis. Tapi, dilakukan. Dibuat jadi kenyataan.

Udah ah.
**Lari, ambil sendal, sebelum sendalnya terbang balik arah.

Entah Apa

Cuma dua kata di judul itu, yang saat ini menggelayut di kepala saya.

Entah apa.

Saya seperti mencari sesuatu, saya lelah. Tapi tidak tau itu apa, gak ketemu apa pun sebagai hasilnya.

Seperti menunggu seseorang, tapi gak tau siapa. Seperti gelisah tapi gak tau penyebabnya.

Iya, sekarang ini memang ibadah saya merosot. Bukan cuma ibadah, jam kerja badan pun jadi gak jelas. Waktu banyak, terasa longgar untuk istirahat. Tapi terlalu lelah untuk hal lainnya.

Seperti kehilangan sebagian diri saya, tapi gak tau bagian yang mana. Gak tau harus dicari kemana.

Kadang semangat super meluap. Kadang melompong.

Kadang pengin ketawa. Kadang nangis.

Kadang saya gak mau sendiri, kadang ingin suasana yang lebih sepi.

Saya gak tau kenapa, gak tau apa. Cuma ingin nulis ini aja, berharap.dengan menulis, bagian entah apa yang jadi pertanyaan itu, berubah menjadi apa. Iya, jadi sebuah apa yang membuat bahagia.

Intro

Hai. Hampir setahun blog ini kosong melompong. bukan karena gak ada inspirasi buat nulis apa. Tapi saya cuma gak mau berbagi aja.

Ah, rasanya sudah banyak hal gak jelas yang saya tulis di blog. Dan itu gak bermanfaat banyak buat orang. Gak juga bermanfaat buat saya.

Pikiran semacam itulah, yang bikin saya cuek dengan kekosongan blog ini. Lebih baik saya belajar. Lebih baik saya fokus. Lebih baik la la la … Dari pada gak ada manfaatnya bikin tulisan gak bermanfaat.

Tapi dengan begitu… setelah sekian lama, baru disadari ada yang hilang, banyak yang hilang.  Yang paling hilang adalah perasaan menganggap tulisan sendiri sebagai tulisan berharga.  Nah

Saya cuma gak mau kehilangan. Sama seperti orang-orang yang gak ingin kehilangan seorang teman, yang selalu mendengarkan ceritanya. Teman yang membuat rasa bahagia ketika bersama. Teman yang menyadarkan tentang potensi diri sekaligus menyadarkan kekeliruan.

Menulis buat saya, adalah juga, teman yang istimewa.